Naik nya Suku Bunga Akan Berdampak Pada Ekonomi

Naik nya Suku Bunga Akan Berdampak Pada Ekonomi




http://kursusinggrispare.com/ // Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRR). Kenaikan suku bunga dinilai perlu dilakukan BI lantaran normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) masih akan berlangsung hingga tahun depan. Bank sentral AS, The Federal Reserve (the Fed), menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi dua sampai 2,25 persen pada Rabu (26/9) waktu setempat. Kenaikan suku bunga The Fed yang sudah terprediksi sebelumnya direspons Bank Indonesia (BI) dengan mengerek BI 7-DRR sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen dalam rapat dewan gubernur (RDG), Kamis (27/9).

Baca juga info : info biaya kursus bahasa inggris

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah memperkirakan, BI akan terus mengikuti kenaikan tingkat bunga The Fed hingga tahun depan. Menurut dia, tidak ada jalan lain bagi BI di mana BI harus menjaga interest rate antara suku bunga dalam negeri dengan luar negeri. 
Piter menegaskan, arus modal keluar dari Indonesia menjadi penyebab pelemahan rupiah. Dengan begitu, BI harus terus menjaga jarak suku bunga acuan di Indonesia dengan AS.
Dia mengatakan, the Fed akan menaikkan suku bunga sampai level 3,25 persen. Artinya, hingga tahun depan, akan terjadi kenaikan sampai empat kali lagi. 

Baca juga info : kursus bahasa inggris di al azhar pare

"Sekarang, suku bunga kita di 5,75 persen, berarti bisa naik lagi sampai 6,75 persen," katanya. 
Menurut Piter, penyesuaian suku bunga adalah kebijakan yang harus diambil BI. Akan tetapi, selain itu, BI juga harus terus melakukan intervensi untuk menjaga suplai valuta asing di pasar. 
Pemerintah juga harus terus berupaya menahan laju impor dan mendorong ekspor untuk memperbaiki tingkat defisit neraca transaksi berjalan. 
Salah satu imbas dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral adalah kenaikan suku bunga kredit. Piter menyebut, hal itu alamiah terjadi. 

Baca juga info : info kursus bahasa inggris mudah

Meski begitu, dia menilai, BI memiliki cukup ruang untuk menyesuaikan suku bunga sampai 100 bps hingga tahun depan. "Suku bunga saat ini 5,75 persen. Dalam sejarah suku bunga BI, itu masih rendah. Kita pernah mengalami masa-masa suku bunga di atas tujuh persen," kata Piter.
Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menilai, kenaikan suku bunga BI sudah diprediksi. Menurutnya, kenaikan suku bunga sebanyak 25 bps pun tidak akan berdampak signifikan pada tingkat pertumbuhan kredit dan inflasi. 

Baca jugea info : daftar kursus inggris pare

"Karena kedua data itu masih cukup kuat pada tren sekarang. Kredit kembali naik di atas 10 persen dan inflasi terjaga di bawah 3,5 persen," kata Lanjar, Kamis (27/8).
Lanjar mengatakan, kenaikan suku bunga menjadi salah satu strategi untuk menahan arus modal keluar. "Terutama, setelah the Fed menaikkan suku bunganya," kata Lanjar. 
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan P Roeslani menilai kenaikan suku bunga acuan berdampak terhadap biaya dana para pengusaha. Untuk mengantisipasinya, dibutuhkan strategi jangka panjang dan komprehensif.

Baca juga info : daftar kursus kampung inggris pare

Salah satu strategi itu adalah mencari alternatif pembiayaan, yaitu melalui pasar modal. "Jadi, pengusaha tidak hanya fokus pada perbankan, sehingga tidak bergantung pada suku bunga acuan ini," kata Rosan.
Para pengusaha maupun investor, jelas Rosan, akan sangat mempertimbangkan faktor permintaan dalam melakukan ekspansi usaha. Jika permintaan rendah, investasi akan ditahan.

Tetap ketat

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, posisi kebijakan moneter BI masih hawkish atau cenderung menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Hal ini diperlukan karena mempertimbangkan masih kencangnya tekanan ekonomi global.
"Kita berusaha preemptive (antisipasi) dan ahead of the curve (selangkah lebih maju). Semua ini akan sangat bergantung dengan dinamika ekonomi global dan domestik," kata Perry Warjiyo dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Sepanjang tahun ini, BI sudah lima kali menaikkan suku bunga. Kecenderungan untuk memperketat kebijakan moneter BI, menurut Perry, diperlukan untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan yang pada kuartal II 2018 mencapai tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan BI diperlukan untuk menjaga disparitas suku bunga dengan negara lain, sehingga dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik dan mampu menyerap portofolio asing.

"Portofolio nvestasi dibutuhkan untuk membiayai defisit transaksi berjalan. Sehingga, memang, kita perlu pastikan portofolio investasi terus bisa masuk," ujar dia.
Bank Sentral menargetkan dapat menurunkan defisit transaksi berjalan hingga 2,5 persen PDB pada 2019. "Pada 2019 itu tekanan terhadap rupiah akan lebih rendah, apalagi sekarang kita mempercepat pendalaman pasar valas," ujar Perry.
BI, kata Perry, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal. Selain defisit transaksi berjalan, BI akan mencermati perkembangan perekonomian, seperti nilai tukar, stabilitas sistem keuangan, dan inflasi.

Baca juga info : Info kampung inggris pare

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2018 defisit 1,02 miliar dolar AS. Jumlah ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,01 miliar dolar AS.  
Defisit neraca perdagangan tersebut disebabkan peningkatan impor migas, terutama impor minyak mentah. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas kembali mengalami surplus seiring dengan menurunnya impor nonmigas, seperti impor mesin dan pesawat mekanik, besi dan baja, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, serta plastik dan barang dari plastik. 

BI menilai, permintaan impor nonmigas masih tetap kuat sejalan dengan permintaan domestik yang masih tinggi. Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif, pada Januari-Agustus 2018 neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 4,09 miliar dolar AS. 
Dari kondisi ini, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat cukup tinggi sebesar 117,9 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2018 atau setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 
"Jumlah ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," kata dia. 

Comments

Popular posts from this blog

Kanker Ancam Mampu Tewaskan 10 Juta Orang

Kunci Meredakan Konflik Yang Paling Sederhana