Pemerintah Harus Mewapasdai Peristiwa El Nino
Pemerintah Harus Mewapasdai Peristiwa El Nino
http://kursusinggrispare.com/ // Pemerintah
diminta mewaspadai faktor iklim terhadap produksi padi. Sebab, kekeringan yang
masih terjadi di beberapa daerah, dikhawatirkan berlanjut karena ada fenomena
El Nino. Dengan adanya El Nino, musim hujan yang diperkirakan terjadi pada
November, intensitasnya akan rendah.
Pengamat
pertanian Khudori mengatakan, kemarau panjang yang akan diikuti El Nino
merupakan situasi yang tidak bersahabat bagi pertanian padi. "Padi itu
salah satu tanaman pangan yang membutuhkan banyak air," kata Khudori akhir
pekan ini.
Baca juga info : kursus bahasa inggris di al azhar pare
Ia
mengatakan, kondisi cuaca seperti ini akan memengaruhi sawah tadah hujan, alias
sawah yang sistem pengairannya sangat mengandalkan curah hujan. Sehingga,
produksi sawah tadah hujan bisa terganggu.
Khudori
berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus terhadap lahan pertanian
di daerah yang terkena bencana, seperti Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat
(NTB). Menurutnya, kedua provinsi tersebut merupakan lumbung padi dengan total
produksi mencapai tiga juta ton per tahun.
"Kalau
rusak setengahnya saja, bisa kehilangan potensi 1,5 juta ton padi," kata
Khudori.
Pengamat
pertanian UGM Andi Syahid Muttaqin mengatakan, kondisi musim kemarau di
Indonesia agak berbeda tahun ini. Bagian utara khatulistiwa memang tidak
mengalami musim kemarau berkepanjangan, bahkan sudah memasuki musim hujan.
Namun, daerah selatan Indonesia yang dekat dengan Australia justru mengalami
musim kemarau dengan tingkat yang parah dan lama.
Baca juga info : info kursus bahasa inggris mudah
Kondisi
tersebut, kata dia, tak terlepas dari fenomena alam berupa Munson India. Pakar
agroklimatologi ini memperkirakan musim kemarau panjang karena Munson India ini
bisa berakhir pada 10 hari pertama November. Sayangnya, di saat bersamaan, pada
waktu yang sama sudah muncul siklus El Nino yang mengurangi intensitas curah
hujan, dibandingkan musim-musim hujan yang lalu.
Direktur
Jenderal Tanaman Pangan (Dirjen TP) Kementan Sumardjo Gatot Irianto sebelumnya
memastikan, hasil panen padi di musim kemarau menghasilkan gabah yang
berkualitas. "Justru di musim kemarau, serangan hama rendah, foto sintesis
maksimum. Terjadi panen gadu dimana produktivitas tinggi, gabahnya berkualitas.
Biaya produksi rendah dan harga gabah yang bagus, menjadi berkah untuk
petani," kata Sumardjo, Rabu (10/10).
Sesditjen
Tanaman Pangan Maman Suherman menambahkan, panen di beberapa daerah tersebut
adalah hasil kerja keras petani untuk memenuhi kebutuhan pangan. "Apa yang
kami ungkapkan adalah berdasarkan laporan dan kenyataan di lapangan. Di musim
kemarau, petani kita tetap bekerja untuk memenuhi produksi dan pasokan pangan
dengan kualitas dan harga yang baik," ujar Maman.
Maman
menambahkan, sekitar 17 ribu hektare lahan padi di Kabupaten Ngawi mulai
dipanen, termasuk diantaranya di Kecamatan Karangjati, Padas, Pangkur, Bringin,
Kawadungan, Ngawi, Paron dan Kedunggalar. Panen dilakukan dengan menggunakan combine
harvester. Hasil rata-rata mencapai 7,5 ton/hektare gabah kering
panen (GKP), dengan harga Rp 4.700/kg GKP. Wilayah Ngawi juga akan panen
komoditas jagung di bulan Oktober mencapai sekitar 2.930 hektare.

Comments
Post a Comment